<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>Buku Resep Masakan &#187; Wisata Kuliner</title> <atom:link href="http://resepmasakankuliner.com/resep/wisata-kuliner/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://resepmasakankuliner.com</link> <description>Kumpulan Resep Masakan dan Wisata Kuliner serta Tempat Makan Enak Di Indonesia</description> <lastBuildDate>Sat, 05 Mar 2011 07:02:36 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>Kue Kacang Oleh Oleh Khas Tebing Tinggi</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/kue-kacang-oleh-oleh-khas-tebing-tinggi-759.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/kue-kacang-oleh-oleh-khas-tebing-tinggi-759.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 09 Oct 2010 01:53:05 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=759</guid> <description><![CDATA[
Waktu pertama kali membuka usaha roti kacang Cap Rajawali pada tahun  1970, Lau Wing Hiang (75) tak pernah berpikir produknya akan menjadi  makanan khas oleh-oleh dari kotanya, Tebing Tinggi, Sumatera Utara,  menyamai lemang. Ia hanya mau membangun usaha sederhana untuk menghidupi  keluarga.
Roti kacang ia pilih sebab hingga usia  30-an, Lau [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/kue-kacang-oleh-oleh-khas-tebing-tinggi-759.html" title="Permanent link to Kue Kacang Oleh Oleh Khas Tebing Tinggi"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/10/Kue-Kacang-Khas-Tebing-Tinggi.jpg" width="420" height="575" alt="Kue Kacang Oleh Oleh Khas Tebing Tinggi" /></a></p><p>Waktu pertama kali membuka usaha roti kacang Cap Rajawali pada tahun  1970, Lau Wing Hiang (75) tak pernah berpikir produknya akan menjadi  makanan khas oleh-oleh dari kotanya, Tebing Tinggi, Sumatera Utara,  menyamai lemang. Ia hanya mau membangun usaha sederhana untuk menghidupi  keluarga.</p><p>Roti kacang ia pilih sebab hingga usia  30-an, Lau Wing Hiang bekerja di toko roti. Ia bekerja tak hanya di  Tebing Tinggi, tetapi juga bekerja sekaligus ”kursus” di toko roti  kacang di Jalan Bangau Nomor 5, Medan. Apalagi, kini dia baru saja  menikah dengan O A Hian. Dia harus memikirkan kehidupan keluarganya.</p><p>”Waktu  awal membuka usaha, saya hanya punya anggota empat orang: satu orang  memasak kacang hijau, dua orang membuat roti, dan satu orang berjualan.  Usahanya hidup enggan mati tak mau. Satu hari banyak yang beli, hari  lain sepi,” cerita Lau Wing Hiang di rumahnya yang sederhana di kawasan  Pajak Mini, Kota Tebing Tinggi.</p><p>Modal awalnya hanya tepung terigu  25 kilogram, kacang hijau 20 kilogram, dan minyak goreng satu kaleng.  Pokoknya, harus menjadi roti kacang yang enak dan menarik pembeli.</p><p>Roti  kacang produksi Hiang mirip dengan bakpia dari Yogyakarta. Hanya  kulitnya lebih tebal dengan taburan wijen di atasnya. Roti dikemas dalam  bungkus kertas minyak berjumlah lima buah per bungkus. Roti  diberi nama roti kacang Cap Rajawali.</p><p>Rajawali dipilih karena  nama itu gampang diingat dan populer. ”Burung rajawali juga besar,” kata  Hiang yang tampil sederhana mengenakan singlet putih dan celana pendek  putih saat diwawancarai. Baru saat difoto, Hiang berganti baju.</p><p>Dana  modal usaha diperoleh dari hasil kerja Hiang di toko kue saat ia muda.  ”Semua uang saya sendiri, tak ada yang saya pinjam dari bank,” tutur  kakek dari tiga cucu yang sangat ramah itu. Hiang terlihat muda dan  sehat pada usia 75 tahun. Begitu juga istrinya, Hian.</p><p>”Saya  istirahat, termasuk tidur, selama 10 jam sehari,” kata bapak empat anak  itu di sela-sela perbincangan soal bisnis kue kacangnya. Hidup teratur  adalah kuncinya sehat dan sukses.</p><p>Tiap hari ia bangun sekitar  pukul 05.00. Dia lantas melewatkan waktu selama satu jam untuk  sembahyang di awal bekerja sekitar pukul 7.00. Begitu juga saat menutup  usaha pada pukul 20.00. Sebuah rutinitas yang tak pernah ia tinggalkan  setelah membuka usaha sendiri.</p><p>”Tak ada resep khusus bekerja. Yang  penting pikiran sehat. Kerja tidak untuk mencari duit, tetapi untuk  cari bahagia,” tutur Hiang soal penampilannya yang tetap segar pada  usianya sekarang ini.</p><p><strong>Didukung  anak-anak</strong></p><p>Karena ini bisnis keluarga, ia berbagi tugas  dengan istrinya, O A Hian. Istri mengurus rumah tangga, termasuk  anak-anak, sementara ia mengurusi bisnis dari pembelian barang hingga  penjualan roti.</p><p>Begitu anak-anaknya lulus SMA, ternyata anaknya  tidak ada yang berminat kuliah. Semua membantu ayah mereka  di toko dan pabrik roti. Pelan-pelan usahanya pun menanjak.</p><p>Dari  rumah kontrakan di Pajak Mini, Tebing Tinggi, ia memperlebar usahanya di  kompleks Tendean Bisnis Sentral (TBS), Jalan Kapten Tendean, Tebing  Tinggi, tahun 2005. Bekerja keras dan ulet membuatnya kini punya 40  karyawan. Kebutuhan tepung pun naik, kini menjadi lebih dari 250  kilogram per hari.</p><p>Kemasan roti pun berupah dari dibungkus kertas  minyak isi lima buah menjadi dalam kotak bergambar roti dan burung  rajawali dalam kemasan besar isi 27 roti seharga Rp 22.000 dan kemasan  kecil isi 22 roti dijual Rp 15.000.</p><p>Jangan pula membayangkan toko  roti kacang Cap Rajawali di kompleks TBS, seperti kebanyakan toko roti  yang dipenuhi etalase pajangan roti.</p><p>Penanda bahwa ruko itu benar  berjualan roti adalah dua kotak roti kosong yang ditempel satu sama  lain. Kotak itu tergeletak di meja alumunium. Kotak yang kecil di tempel  harga Rp 15.000 dan kotak yang besar Rp 22.000.</p><p>Meskipun  demikian, tidak henti-henti orang datang membelinya.</p><p>Selain  membuka toko di TBS, banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan protokol  di Kota Tebing Tinggi yang juga menjajakan roti kacang. Di situ, Roti  kacang Cap Rajawali dijual hingga Rp 18.000 untuk kemasan kecil dan Rp  25.000 untuk kemasan besar.</p><p>Belakangan, roti Cap Rajawali juga  membuka cabang di Kompleks Asia Bisnis Center Sei Rampah, Serdang  Bedagai.</p><p>Dinas kesehatan, Balai POM, Majelis Ulama Indonesia,  serta dinas perindustrian dan perdagangan selalu memantau usahanya dan  mengadakan kunjungan tetap ke toko dan pabrik. Semuanya oke karena  kebersihannya menjadi hal utama.</p><p>”Saya suka bilang kepada anggota  (karyawan), ini roti dimakan manusia, bukan dimakan hewan,” ceritanya.  Maka, karyawan pun turut menjaga kualitas.</p><p>Saat ini usaha roti  kacang itu lebih banyak dipegang Tony Anwar, salah seorang anak Lau Wing  Hiang. Bagaimana usaha roti Hiang bisa menanjak dan bertahan hingga  sekian lama?</p><p>Menurut Hiang, resepnya sederhana saja. Banyak orang  membeli, maka produksi pun meningkat. Mengapa banyak orang membeli?  Karena rasa roti enak dan sehat. Roti tanpa bahan pengawet dan  diproduksi dalam industri rumah tangga yang bersih.</p><p>”Gula murni  sudah jadi bahan pengawet. Jadi tak perlu pengawet lagi. Roti bisa tahan  22 hari,” kata Hiang yang rajin mengonsumsi buah dan air putih sebagai  bagian dari pola hidup sehatnya.</p><p>Karyawannya juga cukup sejahtera  dengan upah harian Rp 40.000 per hari. Mereka juga  ditanamkan untuk bekerja lebih baik bagi kemajuan perusahaan dan juga  diri mereka sendiri.</p><p><strong>Seruan</strong></p><p>Biar  seruan ini tetap diingat karyawannya, Hiang juga menempel kewajiban  harian bagi karyawan di satu dinding toko, di antaranya berbunyi: senyum  lebih banyak sedikit, kerja lebih cepat sedikit, bicara lebih lembut  sedikit, emosi dikurangi sedikit, tunjukkan kasih lebih banyak sedikit,  hingga tunjukkan jiwa besar lebih banyak sedikit.</p><p>Namun, yang  lebih jelas terlihat adalah kata-kata ”Awali harimu dengan senyuman,  maka dunia akan tersenyum padamu”.</p><p>Saat ini roti kacang  dikembangkan dalam empat rasa, yakni kacang hijau manis, kacang hijau  asin, kacang hitam, dan jeruk.</p><p>Karena sukses, banyak orang yang  kemudian mengikuti jejak Lau Wing Hiang. Sedikitnya ada lima merek roti  kacang serupa yang ada di Tebing Tinggi saat ini. Namun, roti kacang Cap  Rajawali yang paling dicari. Roti kacang seolah sudah melekat pada  warga Tebing Tinggi dan telah menjadi buah tangan khas Tebing Tinggi.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/kue-kacang-oleh-oleh-khas-tebing-tinggi-759.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> </item> <item><title>Sop Iga Sapi Warung Aat Fatmawati Tangerang</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/sop-iga-sapi-warung-aat-fatmawati-tangerang-755.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/sop-iga-sapi-warung-aat-fatmawati-tangerang-755.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 09 Oct 2010 01:47:32 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=755</guid> <description><![CDATA[
Layanan pesan singkat atau SMS masih tertulis di telepon genggam  milik Ny Aat Fatmawati dengan nomor 081282219****.
”At&#8230; tolong  siapin sop iga untuk 20 orang ya. Nanti setelah sepedahan di Cihuni,  kita mau buka puasa bersama di sana”.
Isi SMS itu dikirim seorang  pesepeda kepada Aat pada bulan puasa lalu.
Di  kalangan pesepeda, [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/sop-iga-sapi-warung-aat-fatmawati-tangerang-755.html" title="Permanent link to Sop Iga Sapi Warung Aat Fatmawati Tangerang"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/10/sop-iga-sapi-warung-aat-tangerang.jpg" width="420" height="310" alt="Sop Iga Sapi Warung Aat Tangerang" /></a></p><p>Layanan pesan singkat atau SMS masih tertulis di telepon genggam  milik Ny Aat Fatmawati dengan nomor 081282219****.</p><p>”At&#8230; tolong  siapin sop iga untuk 20 orang ya. Nanti setelah sepedahan di Cihuni,  kita mau buka puasa bersama di sana”.</p><p>Isi SMS itu dikirim seorang  pesepeda kepada Aat pada bulan puasa lalu.</p><p>Di  kalangan pesepeda, Warung Aat memang dikenal  dengan menu sop iga sapinya. Dengan uang Rp 15.000, pembeli bisa  menikmati semangkok sop iga sapi dan sepiring nasi putih.</p><p>Meskipun  pada bulan puasa lalu yang membeli sop iga di Warung Aat berkurang pada  siang hari, namun pada malam hari selalu saja ada pesepeda yang datang  makan di warung ini.</p><p>Setelah bersepeda malam hari (nite ride)  ramai-ramai di kawasan Cihuni, para pesepeda biasanya makan malam di  Warung Aat. Setiap akhir pekan, warung ini selalu dipenuhi para  pesepeda. Sedangkan pada hari biasa di luar bulan puasa, Warung Aat  tidak terlalu ramai kecuali pada hari Sabtu-Minggu. Keluarga Aat  Fatmawati terpaksa mengerahkan seluruh keluarga dan kerabat untuk ikut  melayani pembeli.</p><p>Biasanya setelah bersepeda offroad di kawasan  Cihuni, para penggowes menuju Warung Aat untuk menikmati sop iga sapi.</p><p>Lokasi  warung ini terletak di Kampung Nagreg, Desa Sampora, Kecamatan Cisauk,  Tangerang Selatan. Lokasinya tidak jauh dari kawasan perumahan BSD City  kluster baru, Foresta.</p><p>Selain sop iga, di Warung Aat juga tersedia  nasi uduk dan ketan. Sementara minuman yang menjadi favorit para  pesepeda adalah teh jahe panas.</p><p>Setelah bersepeda dari pagi sampai  siang, menu sop iga yang dikombinasikan dengan minuman teh jahe sungguh  membangkitkan selera makan. ”Rasa cape setelah gowes hilang setelah  minuman teh jahe panas di Warung Aat,” kata Fredie Adjie, pesepeda dari  Kompleks Perumahan Permata Pamulang yang tergabung dalam komunitas Tahu  Cocol (THCC).</p><p>Tidak hanya saat bersepeda ramai-ramai bersama  teman-temannya, ketika sendirian pun Fredie kerap mampir di Warung Aat.  Padahal, lokasinya relatif jauh dari perumahan Permata Pamulang ke  warung itu.</p><p>Hal yang sama juga kerap dilakukan Rika Novriadi,  seorang ibu rumah tangga yang biasa bersepeda santai seminggu sekali.  Meski rumahnya di sekitar Permata Hijau, Jakarta, Rika dan suaminya  kerap bersepeda di sekitar Serpong dan selalu makan sop iga di Warung  Aat.</p><p>Menurut Rika, porsi sop iga yang disajikan cukup, tidak berlebih  dan tidak kurang. Bumbu sop iga berasa ke daging iganya.</p><p>”Kuah  sopnya juga ’nendang’ banget, apalagi kalau bawang gorengnya minta  lebih. Habis gowes, makan di sana maknyus,” ujar Rika.</p><p><strong>Makan  menjadi lahap</strong></p><p>Pernah suatu waktu, Rika bersepeda di  kawasan perumahan Alam Sutera di Serpong, Tangerang, namun makan  siangnya tetap di Warung Aat. Padahal, di kawasan itu, tersedia banyak  tempat makanan enak-enak.</p><p>”Setelah makan sop iga, pulangnya harus  gowes agak jauh supaya kalori dalam tubuh bisa terbakar,” ujar Rika.</p><p>Ditanya  soal harga sop iga, Rika Novriadi menyebutkan sangat relatif. Tetapi,  karena rasanya enak sehingga meskipun harus membayar Rp 15.000, tetap  terasa cukup murah. ”Bukan cuma sop iganya, ketannya juga enak loh,”  tambah Rika.</p><p>Adji Srihandoyo dari Mega Bikers Club (MBC) juga  terkesan dengan sop iga di Warung Aat. Warung ini sangat menarik. Dia  merasakan benar-benar seperti kembali ke alam meskipun di seberang  warung telah berdiri tembok tinggi, pembatas dengan kawasan perumahan  BSD City.</p><p>Berbagai sajian makanan yang dijual di Warung Aat terasa  sebagai makanan khas warung, dan disajikan dalam suasana natural.</p><p>”Rasa  sop iga yang panas membuat para pesepeda menjadi lahap saat makan.  Umumnya habis sepedaan badan terasa agak lelah. Dalam kondisi seperti  itu, kita perlu minum dan makan yang enak serta dalam suasana yang  lepas,” ujar Adji, profesional yang akhir-akhir ini rajin bersepeda.</p><p>Bagi  Adji, harga makanan yang dijual di Warung Aat, termasuk sop iga,  relatif murah dan terjangkau. Para pembeli yang datang ke warung ini  umumnya dari semua golongan masyarakat.</p><p>Berdasarkan pengamatan  Kompas, banyak di antara warga Jakarta, terutama mereka yang biasa  bersepeda, senantiasa ingin merasakan menu masakan khas warung bernuansa  alam, seperti halnya menu makanan sop iga di Warung Aat.</p><p>Di  tempat lain pun sama, warung yang menyajikan masakan lumayan enak selalu  menjadi tempat tujuan kuliner para pesepeda. Misalnya, para pesepeda  dengan tujuan Rindu Alam, Puncak, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, para  pesepeda biasa melakukan persiapan untuk bersepeda di Warung Mang Ade.</p><p>Di  warung itu, pada umumnya pesepeda makan nasi goreng sebelum memulai  aktivitas bersepeda ke tanjakan Ngehe maupun ke lokasi off road yang  menantang di Telaga Warna.</p><p>Tempat makan yang cukup dikenal di  kalangan pesepeda di sekitar Jalur Pipa Gas (JPG) Serpong, Tangerang,  adalah Warung Mpok Cafe. Tempat ini juga biasa dijadikan tempat mangkal  para pesepeda.</p><p>Sedangkan mereka yang biasa bersepeda santai pada  hari Minggu di kawasan Sudirman- Thamrin, Jakarta, pada Hari Bebas  Kendaraan Bermotor umumnya pergi ke warung nasi uduk di Kebon Kacang  atau soto mi di pinggir jalan di kawasan Menteng.</p><p>Kalau bersepeda  ke jalur off road di Tajur Halang, Kabupaten Bogor, para pesepeda  biasanya mampir untuk melahap makanan laksa yang dimasak dengan kunyit  di pinggir jalan.</p><p>Jika bersepeda ke kawasan Sentul atau kaki  Gunung Pancar, para pesepeda biasanya memburu sate kambing muda.  Merasakan makanan di sejumlah tempat saat bersepeda sungguh merupakan  pengalaman yang sangat mengasyikkan dan selalu ingin mencoba lagi.</p><p>Setiap menjelang hari Sabtu dan Minggu, seluruh keluarga besar  pasangan Ny Romlah-Rosdik berkumpul bersama di Kampung Nagreg, Desa  Sampora, Kecamatan Cisauk, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.  Mereka berkumpul di sana karena pada setiap akhir pekan, seluruh  keluarga ini melayani para pembeli di Warung Aat.</p><p>Sebenarnya Ny  Romlah sudah merintis usaha warung di tempat itu sejak tahun 1975.  Namun, warung ini baru terkenal di kalangan para pesepeda dalam dua  tahun terakhir ini setelah berjualan sop iga sapi.</p><p>”Awalnya, kami  berjualan gado-gado,” ujar Rosdik, suami Ny Romlah, mengisahkan awal  mulanya membuka warung. Tempat makan ini sekarang lebih dikenal dengan  sebutan Warung Aat ketimbang Warung Romlah.</p><p>Itu terjadi begitu  saja. Namun, Ny Romlah tidak mempersoalkan kalau nama anaknya, Ny Aat  Fatmawati, lebih dikenal ketimbang dirinya. Pasangan Ny Romlah-Rosdik  yang menikah tahun 1952 memiliki delapan anak, termasuk Aat.</p><p>Romlah  sudah merasa senang jika anak-anak dan mantunya bisa ikut berkumpul  bersama setiap akhir pekan serta bahu-membahu saling membantu melayani  para pembeli di Warung Aat.</p><p>Meskipun usianya sudah berangkat  senja, Ny Romlah masih tetap bersemangat membantu melayani pembeli di  Warung Aat. Dia selalu terlihat menjaga takaran dan bumbu yang  dituangkan dalam setiap mangkuk sop iga sapi yang disajikan kepada para  pembeli.</p><p>Kegiatan rutin yang biasa dilakukan anggota keluarga  besar ini, pergi ke Pasar Cikokol, Kota Tangerang, di pagi buta untuk  membeli bahan makanan yang akan disajikan di warung, terutama menu utama  sop iga sapi.</p><p>”Anak saya biasa membeli daging sop iga sapi di  pasar sekitar Rp 38.000-Rp 40.000 per kilogram,” kata Romlah yang  berbicara dalam bahasa Sunda. Tadinya satu mangkuk sop dan sepiring nasi  Rp 13.000, namun karena belakangan harga daging sapi naik, harga jual  sop iga sapi di Warung Aat juga naik menjadi Rp 15.000.</p><p><strong>Relatif  nyaman</strong></p><p>Meskipun Ny Romlah sudah membuka warung sejak  lama dan sekarang penjualannya meningkat berkat menu utama sop iga sapi,  kondisi warung ini tetap biasa saja.</p><p>”Akhir-akhir ini, saya  sering berobat ke rumah sakit,” ujar Rosdik, yang menderita diabetes.  Rosdik secara tersirat menjelaskan alasan warungnya yang tetap seperti  itu-itu saja. Meskipun menderita penyakit berat, Rosdik masih tetap ikut  membantu melayani pembeli.</p><p>”Minimal saya ikut memasak air di  dapur,” katanya.</p><p>Bagi pesepeda, berhenti dan istirahat makan siang  di Warung Aat relatif nyaman dan luas. Selain terdapat tempat untuk  parkir sepeda yang relatif luas, di sana juga tersedia toilet dan tempat  duduk yang nyaman. Bahkan di saung khusus tempat duduk para pembeli,  disediakan televisi yang sengaja diputar di luar setiap akhir pekan.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/sop-iga-sapi-warung-aat-fatmawati-tangerang-755.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Rumah Makan Menu Vegetarian Di Petak Sembilan</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/rumah-makan-menu-vegetarian-di-petak-sembilan-557.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/rumah-makan-menu-vegetarian-di-petak-sembilan-557.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 27 Apr 2010 11:58:03 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=557</guid> <description><![CDATA[
Beralih mengonsumsi makanan dari jenis daging ke vegetarian memang bukan hal mudah yang dapat dilakukan setiap orang. Terlebih, di Jakarta ini, jumlah rumah makan yang menyajikan makanan khusus vegetarian masih terbilang sedikit. Belum lagi masih banyak orang yang beranggapan bahwa menu vegetarian tidak selezat makanan berbahan daging.
Namun, Rumah Makan Vegetarian Ko Alim, yang berada di [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/rumah-makan-menu-vegetarian-di-petak-sembilan-557.html" title="Permanent link to Rumah Makan Menu Vegetarian Di Petak Sembilan"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/04/menu-vegetarian-ko-alim-petak-sembilan.jpg" width="400" height="400" alt="Rumah makan vegetarian ko alim petak sembilan" /></a></p><p>Beralih mengonsumsi makanan dari jenis daging ke vegetarian memang bukan hal mudah yang dapat dilakukan setiap orang. Terlebih, di Jakarta ini, jumlah rumah makan yang menyajikan makanan khusus vegetarian masih terbilang sedikit. Belum lagi masih banyak orang yang beranggapan bahwa menu vegetarian tidak selezat makanan berbahan daging.</p><p>Namun, Rumah Makan Vegetarian Ko Alim, yang berada di kawasan Petak Sembilan, Grogol, Jakarta Barat, memiliki menu khusus berbahan dasar vegetarian. Di warung ini, semua makanan bentuknya menyerupai daging, tetapi berbahan dasar makanan vegetarian yang telah diolah sedemikian rupa.</p><p>Mengenai aroma dan rasanya, tentu tak kalah dengan aslinya sehingga membuat orang yang pernah mencicipinya menjadi ketagihan. Bahkan, menu yang tersedia di warung makan ini bisa merangsang orang untuk beralih ke menu vegetarian.</p><p>Warung makan vegetarian milik Ko Alim memang tidaklah besar seperti restoran. Bentuknya mirip seperti warteg (warung Tegal) sehingga tak banyak orang tahu mengenai warung tersebut. Sebuah etalase kaca yang menjadi tempat pajangan menu makanan tampak terlihat dari luar.</p><p>Memang tak ada yang berbeda antara menu makanan yang disajikan warung milik Ko Alim dengan makanan dari warung pada umumnya. Yang menjadi pembedaannya adalah warung ini lebih fokus pada penyajian menu makanan jenis vegetarian.</p><p>“Biasanya orang cenderung memilih makanan daging karena rasanya yang lebih enak. Namun, di sini kami mengakalinya dengan membuat menu daging buatan dengan bahan vegetarian tanpa menghilangkan rasa dan aroma daging aslinya,” kata Alim, Senin (26/4/2010).</p><p>Untuk menjerat pelanggannya, selain menjaga kualitas masakannya, Ko Alim juga menawarkan makanan dengan harga yang relatif murah. Dengan begitu, semua lapisan masyarakat dapat membeli aneka menu makanan yang dijualnya.</p><p>Dikatakan, masakan vegetarian hasil olahannya itu terbuat dari tepung yang dicampur dengan jamur dan rumput laut, serta rempah-rempah sebagai pengganti rasa.</p><p>Awalnya semua bahan tersebut dicampur bersama air dan diaduk hingga mengeras. Setelah itu, tepung yang sudah padat kemudian dibentuk kecil-kecil layaknya daging yang disebut &#8220;gluten&#8221;. Daging buatan atau gluten yang masih mentah itu kemudian dipanaskan dalam oven atau bisa dibakar. Setelah itu baru diolah menjadi masakan seperti rendang dan sebagainya.</p><p>Di warung Ko Alim ini juga tersedia mi ayam vegetarian. Daging ayamnya juga dia ganti dengan makanan vegetarian, yakni berbahan jamur cincang. Harga semangkuk mi ayam Rp 8.000.<em></p><p></em>Hmmm&#8230; penasaran?</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/rumah-makan-menu-vegetarian-di-petak-sembilan-557.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Nasi Jamblang Daun Jati Dan Seabrek Lauk Pauk</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/nasi-jamblang-daun-jati-dan-seabrek-lauk-pauk-554.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/nasi-jamblang-daun-jati-dan-seabrek-lauk-pauk-554.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 17 Apr 2010 13:58:13 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=554</guid> <description><![CDATA[
Rasanya ada yang kurang bila datang ke kota Cirebon tanpa mencicipi nasi jamblang. Saat memasuki kota itu, dengan mudah kita bisa temui jajaran warung yang menjual nasi yang dibungkus dengan daun jati itu.
Berdasarkan data dari buku kuliner khas Cirebon, ada sekitar 300 penjual nasi atau sega jamblang, baik yang mangkal (warung) maupun yang dijajakan keliling. [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/nasi-jamblang-daun-jati-dan-seabrek-lauk-pauk-554.html" title="Permanent link to Nasi Jamblang Daun Jati Dan Seabrek Lauk Pauk"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/04/nasi-jamblang-daun-jati.jpg" width="420" height="317" alt="Nasi Jamblang Daun Jati" /></a></p><p>Rasanya ada yang kurang bila datang ke kota Cirebon tanpa mencicipi nasi jamblang. Saat memasuki kota itu, dengan mudah kita bisa temui jajaran warung yang menjual nasi yang dibungkus dengan daun jati itu.</p><p>Berdasarkan data dari buku kuliner khas Cirebon, ada sekitar 300 penjual nasi atau sega jamblang, baik yang mangkal (warung) maupun yang dijajakan keliling. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan ini. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi. Makanan disajikan secara prasmanan.</p><p>Menu yang tersedia antara lain sambal goreng (yang agak manis), tahu sayur, paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar/telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe serta tidak ketinggalan &#8216;blakutak&#8217;, sejenis cumi-cumi yang dimasak bersama tintanya.</p><p>Awalnya nasi jamblang ini dibuat untuk para pekerja paksa di zaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati wilayah Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Kasugengan. Sega Jamblang saat itu dibungkus dengan daun jati, mengingat bila dibungkus dengan daun pisang kurang tahan lama sedangkan dengan daun jati bisa tahan lama dan tetap terasa pulen. Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu lama. Uniknya, akan lebih nikmat dimakan secara tradisional dengan &#8217;sendok jari&#8217; dan alas nasi beserta lauk pauknya tetap menggunakan daun jati.</p><p>Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa pada nasinya, hanya nasi putih biasa yang harus didinginkan terlebih dahulu beberapa jam, baru setelah itu dibungkus dengan daun jati. Ukuran nasinya tidak terlalu banyak, hanya segenggaman tangan orang dewasa.  &#8220;Kalau dibungkus pada saat panas akan membuat nasi berubah menjadi merah. itu yang kita tidak mau. Biasanya setelah nasi matang, langsung dikipas dan diangin-anginkan dan hal ini bisa membuat nasi tahan lama,&#8221; jelas Umar (40), pengelola Warung Nasi Jamblang Mang Dul yang ada di Jalan Ciptomangunkusumo, Cirebon.</p><p>Warung Nasi Mang Dul ini menjadi salah satu tempat favorit bagi orang Cirebon dan para pendatang dari luar kota yang ingin mencicipi nasi jamblang. Setiap hari, sekitar pukul 06.00-08.00  pasti orang berjubel tengah menikmati nasi jamblang sebagai sarapan pagi. &#8220;Nanti ramai lagi sekitar jam makan siang,&#8221; tutur Umar.</p><p>Sejak sang ayah, Abdul Rojak, meninggal pada tahun 1994, maka namanya diabadikan sebagai nama warung. Sejak tahun 1968 sang ayah sudah berjualan nasi jamblang dengan cara dipikul dan berkeliling kota Cirebon. &#8220;Dulu Bapak cuma menjual sekitar 50 bungkus sehari,” Umar mengenang. Setelah mendapat bantuan kredit dari salah satu bank, Mang Dul bisa mangkal di dekat kolam renang dan Stadion Gunungsari yang kini menjadi pusat perbelanjaan Grage Mal.</p><p>Saat sang ayah berjualan, lauk pauknya tidak sebanyak sekarang. Dulu hanya ada sembilan macam, di antaranya tahu, tempe, daging, ati, oncom, sambal merah. Saat ini jumlah lauknya ada 20 macam. Harga lauknya berkisar Rp 800-Rp 6.000. Meski sambalnya berwarna merah, sama sekali tidak pedas. Karena terbuat dari cabai merah besar lalu diiris tipis-tipis, bawang merah, serai, lengkuas  dan ditumis dengan minyak. Hanya makan dengan sambal saja, bisa tambah nasi berkali-kali.</p><p>Selain Warung Mang Dul, masih di sekitar Grage Mal, di Jalan Tentara Pelajar, juga berjajar warung nasi jamblang serupa yang buka 24 jam. Ada sekitar enam warung tenda. Lauk pauk yang dijual pun beraneka ragam.</p><p>Warung itu juga menjual makanan kecil seperti keripik, jajanan, buah-buahan yang dijual satuan. Para pedagang ini rata-rata juga sudah berjualan puluhan tahun.</p><p>&#8220;Dulunya para pedagang disini mangkalnya di areal kolam renang (Grage Mal_<strong>Red</strong>). Kalau di sini ramainya siang dan malam hari. Biasanya para penjaga toko dan pekerja malam cari makan di sini,&#8221; ujar Titin Kartini (57). Untuk mempersiapkan semua lauk pauk, ia mempekerjakan empat tukang masak. Selain Titin, anak pertamanya pun turut membuka warung yang sama disebelahnya<strong>. </strong></p><p><strong>Percaya konsumen </strong></p><p>Tidak mudah memasak bermacam lauk dalam sehari, apalagi dengan permintaan yang begitu banyak. Untuk itu di Warung Mang Dul diterapkan sistem masak dalam dua <em>shift</em>. Pada pagi hari masak mulai pukul 09.00-19.00, lalu malam hari masak mulai pukul 19.00-07.00. Untuk itu ada enam juru masak yang membantunya.</p><p>&#8220;Memang kami masak tidak pernah berhenti. Karena selain untuk di sini, kami masih punya empat <em>outlet</em> lagi yang ada di aal,&#8221; jelasnya.</p><p>Meski permintaan banyak, namun tidak membuat Umar sembarangan memasak makanan. Ia mengaku, sangat ketat dalam pengawasan makanan.&#8221;Jangan sampai pelanggan komplain, karena kita hanya memikirkan kejar setoran. Kalau seperti ini kami bisa ditinggal pelanggan,&#8221; kata anak keempat dari lima bersaudara ini.</p><p>Untuk memenuhi kebutuhan daun jati, persediaan didatangkan dari daerah Majalengka atau Subang, karena di sana terdapat hutan produktif  jati. Untuk menjaga kesegaran daun tersebut,  daun jati harus baru setiap hari. Yang dipilih adalah daun jadi berusia dua minggu, yang masih lentur sehingga tidak robek saat digunakan sebagai bungkus nasi.</p><p>Setiap hari Umar memasak satu kuintal beras sedangkan di akhir pekan kalau akhir pekan bisa dua kali lipat. Dari rekaman bukti bon yang ada di kasir, dalam sehari pengunjung warung ini bisa mencapai 1.000 orang.</p><p>Warung Nasi Jamblang Mang Dul bisa bertahan karena rasa kepercayaan kepada para pelagganan. Pada saat mengambil lauk, konsumen diperbolehkan memilih dan mengambil sendiri lauk pauk yang diinginkan. Para pelayan hanya melayani pengambilan nasi saja atau melayani orang yang ingin membawa pulang nasi jamblang. Jadi ketika akan membayar, konsumen tinggal menyebutkan lauk pauk apa saja yang telah disantap.</p><p>&#8220;Ini juga pesan mendiang Bapak, bahwa kita harus percaya kepada konsumen. Dan kami pun harus selalu berpikir positif,&#8221; tandas Umar.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/nasi-jamblang-daun-jati-dan-seabrek-lauk-pauk-554.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> </item> <item><title>Wisata Kuliner Soto Betawi Kuno Ala Tahun 40 Di Padang Panjang</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-soto-betawi-kuno-ala-tahun-40-di-padang-panjang-550.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-soto-betawi-kuno-ala-tahun-40-di-padang-panjang-550.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 17 Apr 2010 13:40:52 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=550</guid> <description><![CDATA[
Di sela toko-toko penjual barang antik dan alat-alat olahraga di Jalan Padangpanjang, Manggarai, Jakarta Selatan, terselip sebuah warung soto yang dipadati pengunjung setiap harinya. Di bagian depan warung dibentangkan kain putih yang juga berfungsi sebagai papan nama bertuliskan ’Soto Betawi Haji Husen’.
Pemandangan di warung soto betawi milik Haji Husen yang sederhana cukup kontras dengan deretan [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-soto-betawi-kuno-ala-tahun-40-di-padang-panjang-550.html" title="Permanent link to Wisata Kuliner Soto Betawi Kuno Ala Tahun 40 Di Padang Panjang"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/04/soto-betawi-kuno-padang-panjang.jpg" width="420" height="317" alt="soto betawi padang panjang" /></a></p><p>Di sela toko-toko penjual barang antik dan alat-alat olahraga di Jalan Padangpanjang, Manggarai, Jakarta Selatan, terselip sebuah warung soto yang dipadati pengunjung setiap harinya. Di bagian depan warung dibentangkan kain putih yang juga berfungsi sebagai papan nama bertuliskan ’Soto Betawi Haji Husen’.</p><p>Pemandangan di warung soto betawi milik Haji Husen yang sederhana cukup kontras dengan deretan mobil pelanggannya yang diparkir berjajar di sepanjang Jalan Padangpanjang. Melihat ramainya warung soto betawi tersebut akhirnya <em>Warta Kota</em> singgah di sana untuk mencicipi semangkok soto betawi buatan Husen serta sepiring nasi putih.</p><p>Satu porsi soto betawi buatan Husen antara lain berisi potongan paru, babat, daging, serta lidah sapi, yang sebelumnya sudah digoreng. Namun, mereka yang memiliki selera khusus bisa memilih menunya sendiri, seperti lidah sapi saja atau paru saja.</p><p>Ditemui di sela kesibukannya melayani pelanggan, Minggu (8/2) siang, Husen menuturkan bahwa usaha dagang soto betawi yang digelutinya saat ini adalah usaha turun-temurun dari almarhum Kaiban, ayahnya.</p><p>Dikisahkan Husen bahwa ayahnya sudah berdagang soto betawi di kawasan Manggarai sejak sekitar tahun 1940-an. Husen adalah generasi keempat yang meneruskan usaha dagang soto tersebut. ”Setelah bapak saya, dua kakak saya yang melanjutkan usaha ini. Kemudian menurun ke saya sejak tahun 1964 hingga saat ini,” ujar pria asli Pasar Rumput ini.</p><p>Kini ia menetap di daerah Beji, Depok. Semula warung soto yang dikelola Kaiban, ayah Husen, terletak di Jalan Minangkabau, Manggarai. Warung soto tersebut kemudian pindah pada tahun 1960 ke Jalan Padang, masih di wilayah Manggarai, hingga tahun 1970. ”Setelah berdagang di Jalan Padang selama 15 tahun, sekitar tahun 1985 warung pindah ke Jalan Sultan Agung, juga di kawasan Manggarai, dan terakhir pindah ke warung ini tahun 1989 hingga sekarang,” ujar Husen.</p><p>Soto betawi yang dihidangkan oleh Husen memang cukup menggugah selera. Menu andalannya adalah potongan lidah sapi, paru, serta babat yang dicampurkan ke dalam kuah soto yang gurih karena santannya cukup kental, kemudian dicampur dengan racikan bumbu yang pas.</p><p>”Racikan bumbu yang saya buat memang kuncian dari orangtua saya. Tapi yang jelas kuah sup yang saya hidangkan cukup kental sehingga rasa soto menjadi gurih. Sementara untuk daging, lidah, serta paru sapi, agar empuk sebelum digoreng terlebih dahulu saya rebus,” ujar Husen.</p><p><strong>Habis terus </strong><br
/> Semula Husen hanya menjual soto betawi dengan daging sapi sebanyak 5 kilogram per hari. Saat itu, sekitar tahun 1989, warungnya juga masih berukuran 3 m x 3 m. Namun lantaran jumlah pelanggannya bertambah banyak, kebutuhan dagingnya juga terus meningkat. Saat ini, setiap harinya Husen butuh satu kuintal daging sapi serta empat panci besar kuah soto.</p><p>Untuk bisa menghasilkan kuah soto yang gurih, dalam sehari juga dibutuhkan sedikitnya 60 butir kelapa untuk diambil santannya. Daging sapi serta kuah soto sebanyak itu ternyata bisa habis terjual hanya sekitar tujuh jam berdagang pada hari Sabtu dan Minggu.</p><p>”Kalau Sabtu dan Minggu saya sudah buka sejak pukul 07.00 hingga pukul 17.00. Tapi biasanya soto buatan saya sudah habis terjual sekitar pukul 14.00. Sementara untuk hari biasa pada Senin hingga Kamis, biasanya soto buatan saya baru habis terjual pada pukul 17.00,” ujar Husen yang juga menyebutkan bahwa warungnya tutup pada hari Jumat.</p><p>Warung soto betawi itu menjadi salah satu warung yang menjadi pilihan para karyawan saat makan siang. Menurut Husen, biasanya pada hari Senin hingga Kamis, terutama jam-jam menjelang makan siang, pelanggannya sudah antre. ”Awalnya pelanggan yang datang adalah karyawan yang bekerja di sekitar Manggarai, selanjutnya para karyawan dari Kuningan, dan saat ini sudah hampir dari seluruh Jakarta yang datang ke sini,” katanya.</p><p>Sementara itu, pada Sabtu dan Minggu kebanyakan pelanggannya adalah keluarga yang menikmati liburan. Saking terkenalnya warung makan milik Husen itu, pelanggannya pada Sabtu dan Minggu juga banyak yang berasal dari luar daerah. ”Ada pelanggan dari luar Pulau Jawa yang menyempatkan makan di sini. Kebanyakan mereka dari bandara langsung ke sini hanya untuk membeli soto,” ujar Husen yang mematok harga Rp 15.000 untuk satu porsi soto betawi. <strong>(MUR)</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-soto-betawi-kuno-ala-tahun-40-di-padang-panjang-550.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Menikmati Nasi Lengko Pecel Ala Cirebon Yang Lezat</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-nasi-lengko-pecel-ala-cirebon-yang-lezat-546.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-nasi-lengko-pecel-ala-cirebon-yang-lezat-546.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 17 Apr 2010 13:34:48 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=546</guid> <description><![CDATA[
Cirebon tidak hanya punya hidangan khas nasi jamblang. Saat berkunjung atau sekadar melintas kota di pesisir utara Jawa itu, cicipilah nasi lengko. Meski sama-sama berbahan dasar nasi, penyajian dan lauk lengko berbeda dengan jambalng.
Memang agak sulit menemukan penjual nasi lengko. Salah satunya di Jalan Pagongan, Cirebon. Warung milik H Barno itu sudah 13 tahun berdiri. [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-nasi-lengko-pecel-ala-cirebon-yang-lezat-546.html" title="Permanent link to Menikmati Nasi Lengko Pecel Ala Cirebon Yang Lezat"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/04/nasi-lengko-pecel-cirebon.jpg" width="420" height="317" alt="nasi lengko pecel cirebon" /></a></p><p>Cirebon tidak hanya punya hidangan khas nasi jamblang. Saat berkunjung atau sekadar melintas kota di pesisir utara Jawa itu, cicipilah nasi lengko. Meski sama-sama berbahan dasar nasi, penyajian dan lauk lengko berbeda dengan jambalng.</p><p>Memang agak sulit menemukan penjual nasi lengko. Salah satunya di Jalan Pagongan, Cirebon. Warung milik H Barno itu sudah 13 tahun berdiri. Meski hanya warung, daya tampungnya mencapai 100 pengunjung.</p><p>Nasi lengko sebenarnya mirip dengan nasi pecel. Isinya berupa nasi yang di atasnya diberi irisan kecil timun, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu. Kemudian disiram dengan bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng dan irisan daun kucai.</p><p>Rasanya kurang lengkap bila menikmati nasi lengko ini tanpa sate kambing. Untuk itulah di warung ini pun menyediakan sate kambing yang begitu empuk dan tanpa bau prengus kambing. Rahasia daging yang begitu empuk tersebut adalah karena yang dipilih adalah kambing muda berusia satu tahun. Dalam sehari warung ini membutuhkan sekitar 30-40 kg daging kambing.</p><p>Kelezatan nasi lengko sebenarnya ditentukan oleh rasa pedas sambalnya. Namun bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir. Tuang kecap di atas sambal sesuai selera. Rasa kecap manis bercampur sambal dijamin lezat di lidah. Lebih afdol lagi bila disantap bersama kerupuk.</p><p>Barno menuturkan, sewaktu kakak iparnya berjualan dulu, malah sempat nasi lengko ini dilengkapi juga dengan cabai bubuk dan nasinya juga dibungkus dengan daun jati. Namun ternyata untuk saat ini konsumen kurang menyukai rasa dari cabai bubuk tersebut.</p><p>Lantas apa sebenarnya rahasia nasi lengko. &#8220;Semuanya dikerjakan secara tradisional,&#8221; jelas Barno. Untuk menanak nasi, ia menggunakan kayu bakar. Untuk menggoreng tahu atau tempe digunakan anglo (kompor tradisional) yang menggunakan arang.</p><p>Sistem memasak secara tradisional ini, diakui Barno, cukup merepotkan tapi hal itu dilakukan demi mempertahankan rasa. Selain itu, tempenya didatangkan dari Wanasaba, Kabupaten Cirebon, yang khusus membuat tempe untuk nasi lengko yang berbentuk kotak-kotak kubus kecil sepanjang 4 cm.</p><p>Satu porsi nasi lengko harganya Rp 7.000, sedangkan sate kambing muda Rp 20.000 per sepuluh tusuk. Uniknya lagi, warug nasi ini juga menyediakan es duren, mirip dengan es puter, rasanya lembut ditambah lagi dengan buah durennya yang masih utuh.</p><p>Warisan orangtua<br
/> Dalam menjalankan usaha, Barno (55), dibantu istrinya Hj Yayah Rukiyah (52). Layaknya usaha profesional, mereka tinggal mengendalikan manajemen. Sang pemilik warung ini lebih suka bekerja di belakang layar. &#8220;Sudah ada pegawai yang ngurusi. Kami lebih suka memotong daging begini saja,&#8221; tutur Barno saat menunggui istrinya memotong-motong daging kambing.</p><p>Yayah mengisahkan, usaha nasi lengko itu diwarisi dari ayah mertuanya, H Sardi. Sejak tahun 1968, Sardi sudah jualan nasi lengko. Dulu, ia berjualan keliling di kawasan Pagongan. &#8220;Setelah beliau sudah tua dan tak kuat berkeliling lagi, kami meneruskan usaha ini,&#8221; tutur ibu lima anak ini.</p><p>Awalnya memang hanya ikut-ikutan membantu kakak iparnya yang menjual nasi lengko. Setelah memiliki modal, Barno mendirikan warung nasi lengko sendiri. Kini sehari ia harus menyediakan 40 kg beras untuk melayani para pelanggannya atau sekitar 400 porsi.</p><p>Bedanya, Barno tidak keliling memikul dagangan. Ia memilih menggelar dagangannya di emperan toko di Pagongan. Ternyata, berjualan secara menetap banyak untungnya. Pelanggannya tak susah mencari. Peminat pun semakin banyak. &#8220;Apalagi, saat itu belum ada orang yang jual nasi lengko di sini,&#8221; jelas Yayah.</p><p>Oleh karena pembelinya semakin banyak, Yayah dan Barno tergerak ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumennya. Tahun 1987, mereka menyewa kios yang ditempati sampai sekarang. &#8220;Agar orang mudah mencari, sengaja kios dicat dengan warna kuning menyala. Tapi kami tetap mempertahankan gerobak sebagai wadah dagangan,&#8221; ujar Yayah.</p><p>Dikatakan Yayah, kini ayah mertuanya sudah tiada. Terkadang, ibu mertuanya yang tinggal di Desa Megu, Plered, ikut membantu. &#8220;Bila mendapat pesanan orang yang punya hajat pesta, ibu mertua ikut menyiapkan dagangan,&#8221; ucapnya.</p><p>Dengan membuka warung khusus nasi lengko, Yayah dan Barno sudah ikut memasyarakatkan hidangan khas Kota Udang itu. Mereka pun berharap nasi lengko semakin dikenal masyarakat luas. Itu sebabnya, mereka tak keberatan bila karyawannya menyatakan ingin keluar dan membuka usaha yang sama. &#8220;Enggak apa-apa. Rezeki orang berbeda-beda,&#8221; komentar Yayah.</p><p>Warung nasi lengko Pak Barno buka sejak pukul 06.00 hingga pukul 20.00. Sehari-hari pembelinya tak pernah berhenti. &#8220;Paling ramai Minggu pagi. Biasanya orang habis olahraga lalu mencari sarapan ke mari,&#8221; katanya.</p><p><strong>Nasi Lengko H Barno<br
/> Jalan Pagongan No. 15 B<br
/> Cirebon<br
/> Telepon (0231) 210064<br
/> Buka: 06.00-20.00 </strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-nasi-lengko-pecel-ala-cirebon-yang-lezat-546.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Lezatnya Steak Ikan Hiu Di Sidoarjo</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/lezatnya-steak-ikan-hiu-di-sidoarjo-413.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/lezatnya-steak-ikan-hiu-di-sidoarjo-413.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 03 Feb 2010 17:49:36 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=413</guid> <description><![CDATA[
Hiu termasuk salah satu predator terkejam di lautan. Sudah tak  terhitung manusia menjadi makanan hewan bergigi tajam ini. Tetapi  sebaliknya, di darat hiu pun harus menyerah pada takdirnya, menjadi  santapan ekstra lezat bagi manusia.
Nah, di salah satu sudut Kota Malang yang mulai berkembang, Jl  Terusan Sulfat, ada sebuah kedai yang menyajikan [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/lezatnya-steak-ikan-hiu-di-sidoarjo-413.html" title="Permanent link to Lezatnya Steak Ikan Hiu Di Sidoarjo"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/02/steak-ikan-hiu-sidoarjo-malang.jpg" width="420" height="315" alt="Post image for Lezatnya Steak Ikan Hiu Di Sidoarjo" /></a></p><p>Hiu termasuk salah satu predator terkejam di lautan. Sudah tak  terhitung manusia menjadi makanan hewan bergigi tajam ini. Tetapi  sebaliknya, di darat hiu pun harus menyerah pada takdirnya, menjadi  santapan ekstra lezat bagi manusia.</p><p>Nah, di salah satu sudut Kota Malang yang mulai berkembang, Jl  Terusan Sulfat, ada sebuah kedai yang menyajikan berbagai menu berbahan  daging hiu. Kedai Ikan Sidoarjo namanya. Warung ini lebih dikenal dengan  sebutan warung KIS. Tetapi sudah lah, bukan warungnya yang kita bahas,  tetapi daging hiu yang menggiurkan.</p><p>Salah satu andalan kedai ini adalah steak hiu. Dan dari sekian varian  steak hiu, saya mencicipi steak hiu dengan brown sauce. Karena digoreng  menggunakan tepung crispy, tampilan luar steak hiu ini tak beda dengan  crispy steak di kedai lain, baik berbahan daging sapi (beef) maupun  daging ayam (chicken). Tetapi kesan ini sontak hilang begitu gigi dan  lidah menyentuh tepungnya.</p><p>‘Kriukkkk..’ Begitu tepung kemripik itu pecah, gigi akan langsung  memotong daging hiu yang lembut yang sudah diiris-iris berbentuk fillet.  Lidah pun segera merasakan sedikit sengatan rempah yang menguap dari  tepung dan sausnya. Meski disajikan panas, sebaiknya kombinasi daging  hiu dan tepung itu jangan cepat ditelan, kunyah dulu beberapa saat,  kalau tidak ingin kehilangan citarasanya yang unik itu.</p><p>“Saya memang membuat resep sendiri yang tentu tidak sama dengan steak  lain. Ini daging hiu, jadi harus resep yang khusus,” kata Elok  Kurniawati, pemilik Kedai Ikan Sidoarjo, ketika dikunjungi saya pekan lalu.</p><p>Perempuan yang juga terapis akupunktur ini menjelaskan, tidak mudah  membuat steak hiu, karena sifat dagingnya yang sangat lembut.  Menurutnya, kalau dipanggang biasa, daging itu akan hancur dan kalau  disajikan tentu saja bentuknya tidak sedap dipandang. Maka, balutan  tepung crispy itulah solusinya.</p><p>Tak afdol memang kalau steak hiu ini tidak mendapat teman varian  lain. Lalu, Elok pun menyajikan steak hiu dengan mushroom sauce dan satu  lagi steak hiu black pepper. Seperti varian terdahulu, kedua steak hiu  terakhir juga dijamin bercita rasa lain dari biasanya.</p><p>Eksperimen dengan daging hiu bagi Elok tidak sebatas pada tiga varian  steak itu. Sarjana Program Studi Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas  Perikanan Universitas Brawijaya Malang ini juga memodifikasi daging  predator itu menjadi sate dan sup.</p><p>Seperti steak, dari perwajahannya sate hiu Kedai Ikan Sidoarjo mirip sate-sate lain.  Tentu saja, karena sudah cokelat hasil dibakar dan dilumuri bumbu  kacang. Namun, sekali lagi, hasil gigitan pertama sudah mengisyaratkan  ini sate hiu yang berdaging lembut. Aroma ikan bakar langsung terasa di  lidah.</p><p>“Ini karena saya pakai arang batok kelapa sebagai campuran arang kayu  biasa. Lebih mahal tapi ada citarasa lain yang terasa di daging,” kata  Elok menjelaskan bagaimana sate itu dipanggang.</p><p>Sekarang soal sup hiu. Dari sisi bahan, sup ini tidak beda dengan sup  yang biasa kita makan di rumah, kecuali ada tambahan daging hiu yang  dipotong dadu. Yang membedakan, sup ini baru dimasak ketika dipesan dan  disajikan dalam kondisi matang penuh, kecuali kuah dan daging ikan  hiunya. “Saya ingin sup yang segar. Sayurnya belum layu sehingga  sehingga kandungan gizinya masih lengkap,” kata Elok.</p><p>Begitulah nasib hiu yang ganas ketika berhadapan dengan sarjana  perikanan yang juga ahli akupunktur, jadilah hidangan lezat. Nyam… nyam…</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/lezatnya-steak-ikan-hiu-di-sidoarjo-413.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> </item> <item><title>Wisata Kuliner Kepiting Mangunharjo</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-kepiting-mangunharjo-406.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-kepiting-mangunharjo-406.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 30 Jan 2010 18:17:21 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=406</guid> <description><![CDATA[
Tambak-tambak Mangunharjo, Kecamatan Tugu, yang kini dikembangkan budidaya kepiting diharapkan bisa mengarah pada pengembangan kuliner khas. Selain memperluas pengembangan usaha tambak kepiting, pengembangan daerah berbasis wisata dinilai mendongkrak nilai tambah usaha itu.
Wali Kota Sukawi Sutarip mengatakan, klaster kuliner merupakan bisnis yang cepat berkembang. Bila dikelola baik maka bukan tidak mungkin untuk menjadi daerah tujuan wisata. [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-kepiting-mangunharjo-406.html" title="Permanent link to Wisata Kuliner Kepiting Mangunharjo"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/01/wisata-kuliner-kepiting-jakarta.jpg" width="420" height="315" alt="Post image for Wisata Kuliner Kepiting Mangunharjo" /></a></p><p>Tambak-tambak Mangunharjo, Kecamatan Tugu, yang kini dikembangkan budidaya kepiting diharapkan bisa mengarah pada pengembangan kuliner khas. Selain memperluas pengembangan usaha tambak kepiting, pengembangan daerah berbasis wisata dinilai mendongkrak nilai tambah usaha itu.</p><p>Wali Kota Sukawi Sutarip mengatakan, klaster kuliner merupakan bisnis yang cepat berkembang. Bila dikelola baik maka bukan tidak mungkin untuk menjadi daerah tujuan wisata. Apalagi produksi kepiting yang berlimpah menjadikan pasokannya terjaga.</p><p>’’Kalau klaster pemancingan kolam ikan sudah banyak. Sementara klaster kepiting belum ada. Padahal, menu ini banyak peminatnya,’’ katanya, Jumat (23/1).</p><p>Sukawi mengatakan, kondisi usaha tambak yang dikelola kelompok petani itu memang masih sekadar produksi kepiting. Kondisinya pun masih panas karena tidak ada pohon peneduh. Sehingga perlu pendampingan untuk bisa dipoles lebih baik. Misalnya, tata cara penyajian serta penataan tempat makan.<br
/> Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, Ida Purnomowati  mengatakan, instansinya siap membantu pengembangan usaha tambak kepiting. Selama ini bentuk bantuan yang telah diberikan berupa pendampingan teknologi pemeliharaan kepiting.</p><p>Ia optimistis, di masa mendatang usaha ini semakin berkembang. Apalagi pasar ekspor juga siap menampung produksi kepiting para petani. Selain itu, lokasi Mangunharjo juga strategis. Akses jalan menuju lokasi mudah. Selama ini pengembangan usaha di kawasan lebih mengarah ke perindustrian. ’’Diupayakan pengembangan tambak ini bisa terpadu. Selain produksi, juga pemasaran dan pengolahannya,’’ paparnya.<br
/> Satu Kuintal Ketua Kelompok Petani Mina Karya Utama, Abdul Aziz mengatakan, produksi tambak mencapai 1 kuintal/ petak. Keuntungan pengembangan kepiting ini karena masa panen yang lebih cepat, yakni hanya 25 hari sudah bisa panen. Pembeli kepiting ini memang masih lokal, yakni hotel dan rumah makan.<br
/> ’’Sekarang ada 5 petak yang dipanen. Cukup menghasilkan bagi petani dengan keuntungan 100%,’’ katanya.</p><p>Aziz memaparkan harga jual kepiting saat ini mencapai Rp 130 ribu/kg untuk betina dan Rp 60 ribu/kg untuk jantan. Ukuran 1 kg berisi 2-3 ekor kepiting. Per petak, petani membutuhkan bibit senilai Rp 2,9 juta. Usaha yang telah dijalankan kelompok petani tiga tahun terakhir memiliki tingkat kegagalan yang terbilang rendah, yakni 7%.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/wisata-kuliner-kepiting-mangunharjo-406.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Menikmati Hangatnya Sirup Kulit Kayu Manis Gunung Kerinci</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-hangatnya-sirup-kulit-kayu-manis-gunung-kerinci-395.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-hangatnya-sirup-kulit-kayu-manis-gunung-kerinci-395.html#comments</comments> <pubDate>Mon, 04 Jan 2010 03:39:28 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=395</guid> <description><![CDATA[
Melaju menembus kabut tipis di kaki Gunung Kerinci tanpa sadar membuat tubuh menggigil kedinginan. Tubuh pun butuh sesuatu yang bisa menghangatkan raga. Pilihan pun jatuh pada sirup kulit kayu manis khas buatan warga Desa Siulak Deras.
”Orang bilang rasanya seperti jamu. Tapi, ya begini rasanya sirup (kulit) kayu manis. Yang pasti rasanya manis,” ujar Marjani (39), [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-hangatnya-sirup-kulit-kayu-manis-gunung-kerinci-395.html" title="Permanent link to Menikmati Hangatnya Sirup Kulit Kayu Manis Gunung Kerinci"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/01/Sirup-Kulit-Kayu-Manis.jpg" width="420" height="281" alt="Sirup Kulit Kayu Manis Gunung Kerinci" /></a></p><p>Melaju menembus kabut tipis di kaki Gunung Kerinci tanpa sadar membuat tubuh menggigil kedinginan. Tubuh pun butuh sesuatu yang bisa menghangatkan raga. Pilihan pun jatuh pada sirup kulit kayu manis khas buatan warga Desa Siulak Deras.</p><p>”Orang bilang rasanya seperti jamu. Tapi, ya begini rasanya sirup (kulit) kayu manis. Yang pasti rasanya manis,” ujar Marjani (39), salah seorang perajin di Desa Siulak Deras, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, sembari menyuguhkan sirup yang telah diseduh dengan air panas.</p><p>Manis yang terasa merupakan perpaduan minyak dari kayu manis bercampur gula yang menyatu saat direbus. Sedikit susah melepaskan rasa gulanya, tetapi aroma dan cita rasa kayu manis tetap kental terasa. Bahkan, jika kulit kayu manis yang digunakan lebih tua lagi, di atas 15 tahun, rasanya lebih kuat lagi.</p><p>Kebanyakan, sirup kayu manis yang dijual memakai kulit dari pohon yang usianya 5-10 tahun. Dari warna sirupnya bisa diketahui usia kulit kayu manis yang digunakan.</p><p>Makin tua warna sirupnya, itu berarti menggunakan kulit kayu manis dari pohon yang berusia di atas 10 tahun. ”Kalau yang seperti madu (warnanya), biasanya pakai pohon yang masih muda,” kata Marjani.</p><p>Sangat mudah mendapatkan sirup ini sebab ada 8-10 kios kecil di pinggir jalan sepanjang Desa Siulak Deras, menempel pada halaman rumah perajinnya, menjajakan sirup kulit kayu manis. Seperti kios sederhana Kelompok Bunga Ros milik Rosniani dan Kelompok Teratai Putih yang dikelola Marjani.</p><p>Harganya pun terjangkau. Sebotol besar (isi 600 mililiter) dijual Rp 10.000, sedangkan yang ukuran sedang dijual Rp 6.000 per botol. Pada tiap label botol sirup yang diproduksi 10 kelompok itu bertuliskan kata Kerinci dengan ejaan lama, yaitu ”Koerintji”. Adapun nama kelompok pembuatnya juga tetap ditulis.</p><p>Menurut cerita, kata Koerintji tak boleh dihilangkan karena menjadi identitas produk khas dari daerah yang dijuluki ”sekepal surga di tanah Jambi”.</p><p>Berkembang</p><p>Di Desa Siulak Deras kini ada 10 kelompok perajin sirup kulit kayu manis. Awalnya hanya ada tujuh kelompok pada tahun 2006. Saban minggu, tiap kelompok memproduksi 1-3 kilogram kulit kayu manis kering. Dari satu kilogram itu yang diolah, bisa dihasilkan 40 liter sirup, yang setara dengan 80 botol ukuran besar atau 130 botol ukuran sedang siap kemas.</p><p>Produksi akan meningkat saat liburan panjang, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Sebab, biasanya banyak warga Kerinci yang pulang kampung atau banyak pendaki yang naik gunung. Jika seminggu hanya sekali membuat sirup, menjelang liburan bisa dua kali, sehingga, dari 80-120 liter seminggu bisa meningkat menjadi 200 liter per minggu.</p><p>”Sirup buatan kakak saya (dari Kelompok Bunga Ros), kemarin diborong sampai dua dus. Kalau liburan pasti ramai yang beli. Selain orang Kerinci yang pulang kampung, banyak juga orang Padang yang melintas di jalan ini,” tambah Marjani.</p><p>Konon, minuman ini sangat berkhasiat untuk mencegah masuk angin, menghilangkan pegal, dan rematik. Yang pasti mujarab menghangatkan tubuh. Tak ayal, meneguk sirup kulit kayu manis hangat akan membantu mengurangi rasa beku yang menyerang seusai maupun menjelang mendaki Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh. Tertarik mencoba?</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/menikmati-hangatnya-sirup-kulit-kayu-manis-gunung-kerinci-395.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>3</slash:comments> </item> <item><title>Berburu Brownies Manis Lezat Di Taman Narogong Indah Bekasi</title><link>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/berburu-brownies-manis-lezat-di-taman-narogong-indah-bekasi-391.html</link> <comments>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/berburu-brownies-manis-lezat-di-taman-narogong-indah-bekasi-391.html#comments</comments> <pubDate>Mon, 04 Jan 2010 03:32:42 +0000</pubDate> <dc:creator>Memasak Resep Koki</dc:creator> <category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category><guid
isPermaLink="false">http://resepmasakankuliner.com/?p=391</guid> <description><![CDATA[
Brownies lekat dengan Bandung. Kue bantet dengan rasa manis dan bertekstur lembut, yang diolah dengan cara dikukus atau dipanggang tersebut, sangat dikenal sebagai kue manis oleh-oleh khas dari Kota Kembang.
Brownies kukus dan brownies panggang ternyata ada pula di Kota Bekasi. Bahkan, usaha rumahan aneka kue dan brownies di Kota Bekasi sudah berkembang sejak tahun 1998, [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
class="post_image_link" href="http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/berburu-brownies-manis-lezat-di-taman-narogong-indah-bekasi-391.html" title="Permanent link to Berburu Brownies Manis Lezat Di Taman Narogong Indah Bekasi"><img
class="post_image aligncenter" src="http://resepmasakankuliner.com/wp-content/uploads/2010/01/Maulins-Brownies-Taman-Narogong.jpg" width="420" height="318" alt="Maulins Brownies Taman Narogong Indah Bekasi" /></a></p><p>Brownies lekat dengan Bandung. Kue bantet dengan rasa manis dan bertekstur lembut, yang diolah dengan cara dikukus atau dipanggang tersebut, sangat dikenal sebagai kue manis oleh-oleh khas dari Kota Kembang.</p><p>Brownies kukus dan brownies panggang ternyata ada pula di Kota Bekasi. Bahkan, usaha rumahan aneka kue dan brownies di Kota Bekasi sudah berkembang sejak tahun 1998, terutama di Taman Narogong Indah, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu.</p><p>Saat menyusuri sepanjang Jalan Taman Narogong Raya mudah ditemui deretan toko brownies, baik di toko permanen maupun kios kecil yang dibangun di halaman depan rumah tinggal. Selain brownies, di beberapa toko kue itu dijual kue lain, misalnya bika ambon, lapis surabaya, dan bolu gulung.</p><p>”Boleh dibilang Rawalumbu ini sentra kue, terutama brownies, di Bekasi,” kata Auza’i, pemilik Furiz Brownies yang juga Ketua Himpunan Usaha Kecil Menengah Makanan dan Minuman Kota Bekasi.</p><p>”Khususnya di RW 14 ini, jumlah pengusaha brownies dan kue mencapai 20 rumah tangga,” ujar Auza’i.</p><p>Brownies produk Bekasi mencapai belasan merek. Menurut Auza’i, yang lebih akrab disapa Ja’i, sebagian sudah dipatenkan sebagai merek dagang.</p><p>Variasi brownies buatan sejumlah pengusaha kelas rumah tangga di Taman Narogong Indah pun beraneka ragam. Rasa brownies tidak lagi terbatas pada brownies cokelat atau keju, tetapi sudah berkembang ke rasa buah-buahan.</p><p>Auza’i, misalnya, membuat variasi brownies panggang dengan taburan buliran cokelat dan brownies panggang tiga rasa, cokelat, keju, dan wijen.</p><p>Salah satu toko kue Maulin’s Brownies kini menjual brownies rasa jeruk dan rasa stroberi. Variasi itu melengkapi sejumlah rasa brownies lainnya, seperti cokelat, keju, atau almond.</p><p>Pemasaran brownies dari Kota Bekasi ini sudah menjangkau kawasan Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang, bahkan sudah sampai Surabaya dan sekitarnya.</p><p>Lapangan kerja</p><p>Usaha brownies dan aneka kue di Taman Narogong Indah mampu membuka lapangan kerja warga setempat. Beberapa pemilik usaha brownies di kawasan itu juga laki-laki dan mantan karyawan perusahaan.</p><p>Salah satunya, Adi Sunyoto, pemilik PT Maulina Cipta Rasa yang memiliki merek dagang Maulin’s Brownies. Adi terjun ke bisnis kue setelah dia mengundurkan diri dari perusahaan gas tahun 1998.</p><p>Ketika mengawali usaha itu, Adi dibantu istrinya. Suami-istri itu pun kerja rangkap, mulai dari membeli bahan, membuat kue, mengemas, dan sekaligus memasarkannya. Adi termasuk pelopor usaha kue dan brownies di Taman Narogong Indah.</p><p>Saat ini dari usaha rumahannya itu, Maulin’s Brownies mempekerjakan 40 karyawan, termasuk tetangganya. Adi kini memiliki satu toko induk di Jalan Taman Narogong Raya dan toko cabang di Jakarta Timur, Depok, dan Kota Bekasi. ”Usaha kami juga memiliki mitra bisnis, atau istilahnya agen penjualan, dan saat ini jumlah mitra kami sebanyak 12 agen yang tersebar di Jabodetabek,” kata Adi.</p><p>Kendala</p><p>Meski memiliki peluang berkembang dan pasar menjanjikan, bisnis kue dan brownies Kota Bekasi terkendala beberapa hal. Menurut Auza’i, pengusaha kue kelas rumah tangga umumnya sulit berkembang karena kendala modal dan pemasaran. ”Susah mendapat pinjaman bank. Kalaupun dapat, bunganya memberatkan,” ujarnya.</p><p>Ia mengakui, pemerintah sudah banyak membantu pengusaha kecil dan menengah, termasuk para pengusaha kue, antara lain melalui kegiatan promosi, pelatihan, dan kemudahan pengurusan izin. Selain itu, memfasilitasi proses sertifikasi halal serta pengurusan paten.</p><p>Adi menambahkan, Pemerintah Kota Bekasi dapat membantu pengusaha kue, termasuk brownies, dengan memperbanyak kegiatan pameran produk andalan kota itu dan menggencarkan promosi. ”Bantuan permodalan juga diperlukan, tetapi yang penting adanya jaminan kelangsungan usaha itu sendiri,” katanya.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://resepmasakankuliner.com/wisata-kuliner/berburu-brownies-manis-lezat-di-taman-narogong-indah-bekasi-391.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>3</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (enhanced) (user agent is rejected)
Database Caching using disk

Served from: resepmasakankuliner.com @ 2012-02-05 17:41:39 -->
