Menikmati Lezatnya Berbagai Macam Masakan Kepiting Di Jakarta

in Wisata Kuliner

Post image for Menikmati Lezatnya Berbagai Macam Masakan Kepiting Di Jakarta

Wisata Kuliner Kepiting Asap

Hasil laut yang senantiasa eksotis untuk disantap barangkali memang kepiting. Wujudnya sih memang galak, tetapi justru mengundang. Di balik capitnya yang garang itu tersembunyi daging putih yang manis, lembut, dan kenyal. Wuih, lidah ini rasanya langsung rela dicapit….

Indonesia, negeri kepulauan terbesar di dunia ini, tentunya menyediakan aneka macam kepiting yang melimpah ruah dari lautnya, selain dari hasil budidaya. Tak heran, di Jakarta, tak sulit mencari restoran ataupun rumah makan masakan hasil laut yang menjadikan kepiting sebagai andalannya. Meski demikian, ada juga restoran yang mengimpor kepiting dari negeri lain.

Menikmati Lezatnya Kepiting Asap

Kali ini, cobalah mampir di Restoran Rasane di kawasan Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Raya Pesanggrahan 168 N, Jakarta Barat. Luapan pengunjung di akhir pekan nyaris seluruhnya punya satu misi: menikmati kepiting asap.

Bahan baku kepiting di Rasane berasal dari Papua, tepatnya dari perairan antara Papua dan Australia. Sudrajat, Supervisor Restoran, mengatakan, kepiting alam (nonbudidaya) dari Papua memiliki keunggulan rasa daging yang manis dan gurih. Tekstur dagingnya paduan antara lembut dan kenyal.

”Kepiting Papua ini kalau dimasak hanya dengan di-steam (dikukus), tanpa bumbu apa pun, rasanya sudah luar biasa. Manis!” seru Sudrajat.

Menurut Sudrajat, kepiting asap olahan Rasane menggunakan sedikitnya 13 macam rempah. Sekilas rempah kecoklatan yang membalur kepiting mirip dengan ampas kelapa (serundeng). ”Tak ada unsur kelapa, itu semuanya rempah, tetapi rahasia,” ujar Sudrajat.

Memasak kepiting asap membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Cukup lama memang, tetapi waktu itu terbayar dengan kelezatannya. Pertama-tama, kepiting hidup dikukus hingga cukup matang. Setelah itu dioseng bersama racikan rempah hingga bumbu meresap sempurna. Baru kemudian kepiting berbalur rempah itu dibungkus daun pisang berlapis-lapis dan dipanggang di atas bara arang. Proses pemanggangan, berbaur bau daun pisang agak gosong, membuat aroma kepiting kian sedap.

Beda Asal Berbeda Juga Rasa Kepiting Setelah Dimasak

Menu kepiting spesial yang berasal dari Indonesia bagian timur juga menjadi menu andalan di Dinar Seafood di dekat Pluit Village, Jakarta Utara, dan Taman Palem Lestari, Jakarta Barat. Berbeda dengan Rasane, Dinar Seafood menggunakan kepiting asal Dobo, Maluku.

”Kepiting Dobo kami datangkan langsung dengan diterbangkan dari Tual ke Ambon dan Jakarta lewat kargo udara. Kepiting Dobo rata-rata berukuran di atas satu kilogram,” kata Manager Operasional Dinar Seafood Sutiati.

Dobo sendiri merupakan daerah terpencil di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, yang memiliki kekayaan hasil laut melimpah. Yang pasti, Sutiati menegaskan, dirinya tidak menjual kepiting (umang-umang) kenari atau kepiting kelapa yang mulai langka dan dilindungi.

Bumbu pilihan untuk sajian kepiting di Dinar Seafood adalah mulai dari lada hitam, saus padang, asap, hingga menu terbaru kare so’un. Padanan bumbu yang digunakan merupakan campuran selera Medan, Sumatera Utara, dan Makassar, Sulawesi Selatan. Bumbu yang digunakan, seperti parape makassar, dipakai untuk hidangan yang dibakar.

Kepiting Impor Asal Sri Lanka

Selain kepiting asli Indonesia, banyak restoran di Jakarta juga menyajikan kepiting impor. Salah satunya Restoran No Signboard Seafood, di Pasific Place. Resto asal Singapura ini mendatangkan kepiting hidup dari Sri Lanka yang bobot per ekornya rata-rata 1-2 kilogram.

Nicole, Manajer Restoran No Signboard Seafood, mengatakan, keunggulan kepiting asal Sri Lanka adalah dagingnya yang padat, selain rasa yang juga gurih. Olahan kepiting yang tersohor dari No Signboard Seafood sejak akhir 1970-an (di Singapura) adalah chili crab.

Sajian chili crab berupa kepiting bermandikan saus sambal. Namun, belaian rasa pedas manis di lidah ternyata sangat bersahabat. Rasa pedas yang lembut itu justru memungkinkan lidah mencecap rasa asli kepiting ketimbang terintimidasi oleh gempuran bumbu. Masakan China dengan nuansa rasa lembut semacam itu kerap disebut sebagai Singaporean style.

Chili crab ini dinikmati dengan roti mantou goreng yang renyah luarnya dan lembut padat di bagian dalamnya.

Oh ya, harga sajian kepiting di restoran umumnya dihitung per ons. Jadi, sebelum memesan, pastikan dulu semontok apa kepiting yang akan direlakan mencapit lidah Anda itu….

Sebelum Menyantap Kepiting, Ingat Kelestariannya

Ada berbagai macam kepiting yang tersohor untuk dijadikan santapan manusia. Salah satunya adalah ”kepiting” kenari (Birgus latro) atau ”kepiting” kelapa. Jenis ini sebenarnya bukanlah kepiting, melainkan sejenis umang-umang. Hanya saja, ”kepiting” ini nasibnya sungguh malang karena populasinya kian menyusut. Oleh karena itu, sebaiknya kita perlu menahan diri untuk tak memangsanya tanpa memedulikan kelestariannya. Di Indonesia, kepiting kenari di antaranya terdapat di Kalimantan, Maluku, Papua, dan di Sulawesi.

Jenis kepiting lainnya yang populer untuk santapan adalah kepiting soka. Boleh jadi ini adalah kepiting yang tak bikin repot. Sebab, cangkangnya lembut sehingga layak untuk turut disantap. Kepiting soka juga tersedia di Restoran Rasane. Jenis kepiting lainnya yang juga sedap adalah kepiting bakau (Scylla sp) yang, selain dipungut dari alam, kini sudah bisa dihasilkan dari usaha budidaya, misalnya di Bone, Sulawesi Selatan.

Kesegaran Kepiting Amat Penting Menentukan Cita Rasanya

Kesegaran kepiting merupakan hal yang paling penting dalam setiap olahan masakan kepiting. Di Restoran Rasane, kepiting yang didatangkan dari Papua tak pernah menginap di Jakarta lebih dari tiga hari. ”Kami tidak lagi memberi makan kepiting setelah tiba di sini. Kalau kepitingnya menginap terlalu lama, bobotnya akan berkurang dan kurang segar juga. Kalau kepiting yang sudah dua-tiga hari biasanya langsung dibikin sup,” tutur Sudrajat dari Restoran Rasane.

Hal yang sama juga diterapkan di Dinar Seafood dan No Signboard Seafood. Kepiting asal Sri Lanka ini juga nyaris tak pernah menginap lebih dari semalam di restoran. Menurut Nicole, Manajer No Signboard Seafood, untuk mencegah bobot berkurang setelah ditangkap dari perairan di Sri Lanka, kepiting masih diberi makan lagi. Namun, sesampainya di negara tujuan ekspor, pemberian pakan tak perlu lagi dilanjutkan karena masa inapnya toh hanya sebentar, sebelum berakhir di piring santap.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

{ 2 comments… read them below or add one }

1 wildan habibi November 5, 2009 at 5:00 am

indonesia kaya akan SDA, terutama kepiting. kepiting bisa diolah dengan berbagai resep. dan rasanya, sungguh luar biasa enak………… ayo kita kembangkan wisata kuliner indonesia dengan kepiting sebagai idola……..
saya adalah salah satu pengusaha kepiting di jawa timur….

Reply

2 wildan habibi November 5, 2009 at 5:02 am

kepiting is my favorit

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: