Kombinasi Resep Masakan Betawi dan China Nasi Bambu Nyam-Nyam

Kombinasi Resep Masakan Betawi dan China

Sebelum hijrah ke Jakarta pada tahun 2001, Ninik menetap di Surabaya selama 18 tahun mengikuti dinas sang suami, Nuryanto (52), yang waktu itu pilot Merpati Nusantara Airlines. Kini ia adalah pilot Lion Air. ”Selama itu pula saya membuka kantin Merpati di hanggar Merpati di Pelabuhan Udara Juanda. Jadi, soal masak-memasak bukan hal baru lagi,” tuturnya.

Nyam-Nyam baru dibuka pada tahun 2006 setelah cukup lama Ninik mencari lokasi strategis. Dan benar, tempat yang terlihat kurang luas dari luar ini ternyata potensial didatangi pembeli, terutama karyawan perkantoran di sepanjang Jalan Kalibata Timur I (samping Taman Makam Pahlawan Kalibata).

Nyam-Nyam kini memiliki 16 karyawan, yang terbagi untuk juru masak, penyaji, tukang cuci, keamanan, bar, dan kasir. ”Dari Surabaya ke Jakarta, konsep harus beda. Di Jakarta ini kan makanannya boleh dibilang gabungan antara Betawi dan China. Jadi, saya mencoba mengombinasikan. Nasi bambu itu kan gabungan nasi uduk dengan nasi hainan,” kata Ninik yang berlangganan buku resep Sedap Sekejap sejak edisi perdana sampai saat ini.

Mulanya, Ninik ingin memberikan kesan serba bambu untuk warungnya, termasuk bagian atap, ternyata itu tidak bisa bertahan lama. Ia pun mengombinasikan bambu dengan tembok bata dan sirap untuk atap. Aksesori kentungan bambu tergantung di tiang-tiang yang ada di tiap meja makan.

Untuk kendali mutu, Ninik memesan daging, ikan, ayam, serta hasil laut dari pemasok bersertifikat. Namun, untuk sayur-mayur segar, ia membeli sendiri di pasar tradisional. ”Dan saya sendiri yang belanja,” sambung pelopor penanganan sampah rumah tangga di RW 03 Kelurahan Rawa Jati Pancoran itu.

Soal harga yang kata Ninik ”nyak ampun murahnya” itu, memang benar. Harga di Nyam-Nyam paling mahal Rp 27.000 per porsi, ini semisal untuk steak. Nasi bambu dihargai Rp 14.000 dan jika mau tambah lauk ayam kemangi atau ayam jamur, tinggal menambah Rp 8.500

Tiba di rumah makan Nyam-Nyam, pas disambut beduk penanda berbuka puasa. Suguhan nasi bambu, yang memang khas Nyam-Nyam, pun segera mengubah lapar menjadi nikmat.

Nasi bambu menjadi unggulan rumah makan yang berlokasi di Jalan Kalibata Timur I, Kalibata, Jakarta Selatan, itu. Lokasi tidak jauh dari Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa. Ada nasi bambu isi tuna, isi ati ampela, ayam kemangi, dan ayam jamur. Tinggal pilih.

Sesuai dengan namanya, nasi yang telah diisi dengan empat macam lauk itu dimasukkan ke dalam bambu sepanjang sekitar 12 sentimeter (cm). ”Cara makan, nasi disorong dengan kayu seperti ini,” kata Ninik Nuryanto (48) sambil menunjukkan kayu bertangkai sepanjang sepuluhan cm dengan diameter 7 cm.

Karena sedang bulan puasa, Nyam-Nyam memberi bonus es buah dan camilan buat tamu. Kami sedikit saja mencicipi camilan itu agar masih tersisa banyak ruang di lambung untuk nasi bambu.

Nasi bambu ayam kemangi dan ayam jamur sudah terhidang. Saatnya menyantap. Satu suapan, hmm… terasa begitu gurih. Nasinya pulen. ”Berasnya kami pesan langsung dari para petani di Sawangan, Magelang. Berasnya jenis menthik putih yang putihnya seperti ketan,” ujar Ninik.

Tanpa tambahan lauk, sudah cukup sebetulnya makan satu porsi nasi bambu. Namun, tidak ada salahnya dilengkapi dengan bebek goreng. Beberapa tamu menyebut bebek Nyam-Nyam termasuk yang disukai karena empuk.

Sungguh nikmat berbuka dengan yang gurih setelah diawali dengan yang manis tentunya. Nasi bambu ini segurih nasi uduk, tetapi menjadi berbeda karena nasinya begitu lembut dan pulen.

Mudah saja membikin nasi bambu. Rempah-rempah meliputi daun salam, pandan, serai, jahe, pala, daun jeruk, dan garam dalam porsi secukupnya direbus bersama santan. Beras dimasukkan ke dalam santan, lantas dikaru atau ditanak hingga setengah matang.

Nasi setengah matang ini kemudian dimasukkan ke dalam bambu-bambu berdiameter rata-rata 10 cm. Jangan lupa mengisinya dengan lauk. ”Barulah dikukus sampai matang,” ujar Ninik yang memesan bambu dari Citayam dan sudah menyetoknya sampai 600-an potong.

Nasi bambu ini bisa dikatakan mirip dengan arem-arem. Nasi sama-sama dibungkus, diisi dengan lauk, dan dikukus. Namun, faktor bambu membikin unik penampilan. Soal rasa juga jauh berbeda. ”Pak Try Sutrisno dan Pak Akbar Tandjung pernah ke sini dan menyebut nasi bambu ini unik, he-he-he,” ujar Ninik.

Gagasan nasi bambu mulanya dibikin hanya sekadar ingin membikin Nyam-Nyam sedikit berbeda. ”Biar ada keunikan tersendiri. Ternyata kok banyak disukai. Bahkan ada yang memesan untuk katering. Pernah tiba-tiba ada yang pesan 500 buah. Maka, kami menyetok bambu supaya tidak kelabakan kalau ada pesanan,” terang Ninik.

Menu komplet

Tidak hanya nasi bambu yang menjadi andalan rumah makan ini. Nyam-Nyam menawarkan sejumlah menu, baik menu Oriental maupun Barat. Ada tempe penyet, ayam nangking, sapo tahu, ada pula steak. Ninik ingin menampung kegemaran orang yang beragam. Kebetulan di ruas jalan ini berdiri sejumlah kantor dengan karyawan dari berbagai suku bangsa. Tak sedikit pula ekspatriat.

Prinsip Ninik, menu mungkin tidak harus semuanya unik dan berbeda, tetapi rasa haruslah pas di lidah. Banyak warung menjual nasi goreng, misalnya. ”Tapi nasi goreng di sini bisa berbeda, lho. Coba saja, he-he,” katanya.

Meski demikian, Ninik yang suka membaca buku resep ini kerap mencoba mengkreasi menu. Lumpia, misalnya, dia bikin menjadi lumpia khas Nyam-Nyam. Apa bedanya?

Lumpia yang hanya diisi dengan cacahan ayam dan telur ini digulung sepanjang sekitar 30 cm, lantas digoreng. Setelah kering, barulah diiris-iris. Rasanya pun berbeda dengan lumpia isi taoge.

”Nyamleng kan?” tanya Ninik,

Nyamleng adalah ungkapan dalam bahasa Jawa untuk rasa yang nikmat, sedap, dan mantap. Itu yang menyebabkan mengapa tempat makan ini disebut Nyam-Nyam.

”Artinya, nyaman tempatnya, nyamleng makanannya, nyak ampuun… murahnya,” sahut Ninik.

Ha-ha-ha… bisa… saja….

Topik Terkait

Wisata Kuliner
Subscribe